Open Site Navigation

Untuk Bumi

Semakin banyak bukti ilmiah menunjukkan bahwa meningkatkan konsumsi sayuran dan mengurangi konsumsi makanan yang berasal dari hewan dapat secara signifikan mengurangi emisi gas rumah kaca, penggunaan berlebihan dan pemborosan lahan pertanian, penggundulan hutan dan pencemaran air.

 

Laporan terbaru dari IPCC (Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim) menjelaskan transisi ke pola makan yang sebagian besar terdiri dari pangan nabati merupakan peluang besar untuk mengurangi perubahan iklim.

14,5% gas rumah kaca yang dihasilkan manusia terkait dengan sektor peternakan

Di Indonesia, pada tahun 2018 total emisi dari sektor pertanian mencapai 185,2 juta ton setara karbon dioksida (CO2eq), dengan 22,4% emisi terkait kegiatan di sektor peternakan. Transisi ke pola makan dengan mengutamakan makanan nabati akan secara signifikan mengurangi emisi ini.

83% lahan subur di planet ini digunakan untuk produksi daging, telur, dan susu

Produksi ini hanya menyediakan 18% kalori yang dikonsumsi di seluruh dunia.

Ekspansi tanaman pakan ternak dengan mengorbankan ekosistem alami, seperti Amazon atau Cerrado di Brasil dan Chaco di Argentina, merupakan salah satu penyebab utama degradasi lahan. Indonesia sendiri mengimpor bungkil kedelai dari Brasil dan Argentina untuk bahan baku pakan ternak.

Pola makan tanpa daging yang sehat dapat mengurangi jejak air kita hingga 55%

Aktivitas pertanian yang terkait dengan produksi pangan asal hewan adalah salah satu sektor yang paling mencemari sumber air dan mewakili 92% dari jejak air tawar yang terkait dengan konsumsi di dunia.

Pertumbuhan konsumsi pangan asal hewani di Indonesia secara tidak langsung berkontribusi pada hilangnya hutan di negara lain.

Indonesia adalah importir terbesar sapi hidup Australia selama bertahun-tahun. Pada tahun 2018, Indonesia mengimpor 53% sapi hidup dan 20% daging sapi dari Australia, komoditas yang menyumbang deforestasi dan degradasi hutan yang signifikan di Australia.